Selamat Datang di Blog Ninosnina ^_^

Bintang-ku

Minggu, 19 April 2015

KIRAB BANYUMAS dan FOTO-FOTONYA














































KIRAB BANYUMAS
Setiap peringatan Hari Jadi Kebupaten Banyumas selalu digelar acara kirab pusaka. Seperti tahun 2015 ini Banyumas yang merayakan hari jadi ke-433, melakukan kirab empat pusaka Kabupaten Banyumas yang terdiri dari tombak Kiai Genjring, keris Kiai Gajah Endro, Keris Kiai Nalapraja, dan Kitab Stambul. Empat pusaka itu akan diarak dalam acara bertajuk Kirab Pusaka, yang digelar Minggu 5 April 2015, di Purwokerto.
Seperti tahun-tahun lalu, kirab pusaka akan melibatkan para pengiring dari kalangan pelajar, mahasiswa, seniman, dan budayawan di Banyumas. Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein dan Wakil Bupati Budhi Setiawan, anggota Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah), pimpinan dan anggota DPRD, kepala dinas/instansi, camat, kepala desa/kelurahan, dan warga masyarakat juga dijadwalkan ikut serta.
Para pengiring dan pejabat akan mengenakan pakaian adat Banyumasan saat kirab. Prosesi kirab berlangsung dengan berjalan dari halaman Pendapa Rumah Wakil Bupati (depan Tamara Plaza) menyusuri jalan Jenderal Sudirman menuju Pendapa Sipanji yang berjarak sekitar 2 km.
Prosesi kirab pusaka sudah menjadi satu agenda tahunan, semacam ‘ritual’ rutin yang wajib ada di moment peringatan hari jadi Banyumas, sekaligus menjadi bagian dari promosi wisata budaya. Pelaksanaanya pun selalu pada tanggal 5 April sebagai hari yang ditetapkan sebagai tanggal Hari Jadi Kabupaten Banyumas.
Kirab empat pusaka mempunyai makna bahwa masyarakat Banyumas memosisikan diri di tengah kehidupan masyarakat dengan selalu bertumpu pada keimanan dan ketakwaan.
Urutan Kirab Pusaka
Masyarakat Kabupaten Banyumas selayaknya memahami bagaimana urut-urutan kirab. Kirab diawali Manggala Yudha, diikuti dibelakangnya lambang daerah, kemudian tombak Kiai Genjring bersama umbul-umbul dan berturut-turut keris Kiai Gajah Endro, Keris Kiai Nalapraja, dan Kitab Stambul. Di belakangnya akan dikirab juga rombongan yang membawa foto Bupati Banyumas dari masa ke masa.
Siapa yang mengemban Manggala Yudha? Manggala Yudha akan diemban oleh pejabat yang ditunjuk. Untuk tahun 2015 ini diemban oleh Camat Sumbang Nungky Hari Rahmat. Berikutnya adalah rombongan yang membawa foto-foto bupati Banyumas tempo dulu hingga bupati sebelum Bupati sekarang. Khusus untuk Bupati Adipati Mrapat dan Joko Kaiman akan diperankan oleh pemenang ajang kontes Kakang Mbekayu Banyumas.
Pada barisan berikutnya adalah foto-foto bupati ke-2 sampai bupati ke-30. Kemudian di urutan belakang, Bupati Banyumas ke-31 yang saat ini tengah menjalankan tugasnya sebagai kepala Daerah, Achmad Husein beserta Forkompinda yang disusul anggota DPRD dan SKPD di lingkungan Kabupaten Banyumas.
Acara kirab pusaka selalu dipadati pengunjung yang berbaris di sepanjang jalan Jenderal Sudirman, dari mulai kantor eks Kotip sampai alun-alun Purwokerto. (BNC/ist)

http://banyumasnews.com/86589/kirab-pusaka-ritual-tahunan-hut-banyumas/

KRITIK FILM GURU BANGSA: TJOKROAMINOTO



Awalnya saya merasa tertarik dan penasaran dengan film garapan Garin Nugroho, sebelumnya saya menonton kilas balik kiprah HOS Cokroaminoto di metro tv,  dalam acara mata najwa belajar dari guru bangsa tjokroaminoto.
Tjokroaminoto  adalah gurunya para bapak bangsa, mentor bagi para pejuang yang lebih muda, dari Abi Koesno hingga Soekarno, dari Moesso hingga Kartosoewiryo, dari yang Islamis sampai komunis, dari yang kiri sampai kanan, dinyalakannya api keteladanan, dihidupkannya degup jantung perjuangan, Tjokro tempat berharapnya rakyat jelata, Tjokro membuka banyak jalan bagi sang pemuda. Bagaimana hidupnya bisa diteladani, belajar dari guru Bangsa Cokroaminoto.
Tjokro pencetak pendiri negeri
HOS Tjokroaminoto tahun 1912 bergabung dalam organisasi Sarekat Islam yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam didirikan oleh pengusaha batik H. Samahoedi. Di bawah kepemimpinannya Sarekat Islam menjelma menjadi organisasi lebih dari 180 cabang dan beranggotakan lebih dari 2,5 juta angka yang fantastis dibandingkan organisasi yang lebih dulu ada Budi Oetomo.
Tjokro guru para tokoh ternama meletakkan jejak pikirnya kepada pemuda-pemuda yang berumah kos di rumahnya yaitu Soekarno, Samoen, Musso, dan Kartosoewiryo. Para pemuda menyerap paham yang diajarkannya.
Kenapa Sarekat Islam mampu menarik perhatian lebih luas, alasannya dari gagasan progresif Tjokro yaitu:
ü  Hapus kerja paksa
ü  Hapus diskriminasi penerimaan murid di sekolah
ü  Wajib belajar hingga 15 tahun
ü  Beasiswa ke luar negeri
ü  Pembentukan dewan daerah
ü  Pengakuan hari-hari besar Islam
Sarekat Islam, dari awal mengusung konsep:
KESETARAAN, MENJUNJUNG PERSAMAAN hak antara golongan tanpa sekat pembeda usia, pangkat, keturunan priyayi dan rakyat jelata.
Selain dari gagasan Tjokro, Sarekat Islam menarik karena pesona Tjokroaminoto itu sendiri, pidatonya melegar, gaya orasinya yang menginspirasi Soekarno hingga Soekarno menjadi Orator ulung.
Ciri khas Tjokroaminoto
ü  Kharismatik
ü  Beskap (lambang priyayi)
ü  Memakai sarung (lambang rakyat jelata)
ü  Kaki satu diangkat (artinya menantang Belanda)

Menurut sejarawan Anhar Gonggong mengatakan Tjokro bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Rumah Tjokro adalah rumah idiologi dan dialog. Rumah berkumpulnya berbagai idiologi dari dialog Tjokroaminoto.
Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia
Semaoen dan Moesso bergabung di ISDV cikal bakal Partai Komunis Indonesia
Kartosoewiryo mendirikan DI/TII
Kenapa Tjokroaminoto kalah pamor dengan tokoh yang lain?
Anhar Gonggong menyebutkan salah satu alasannya terjadi pergerakan PKI yang dipimpin Semaoen pada tahun 1926-1927, Belanda mencurigai organisasi Sarekat Islam yang dipimpin Tjokroaminoto, yang mengharuskan bolak balik Tjokroaminoto dipanggil Belanda untuk dimintai keterangan dengan kerusuhan yang dilakukan oleh murid-muridnya. Sedangkan disisi lain selesai kerusuhan 1927, muncul Partai Nasional Indonesia yang didirikan oleh Soekarno, Soekarno selalu tampil dan terkenal. Saat gurunya Tjokro tanda kutip tenggelam karena ditenggelamkan pamor seorang muridnya melejit Soekarno.
Tjokroaminoto dijuluki Raja Jawa tanpa Mahkota, menurut menteri pendidikan Anis Baswadean, mengatakan bukan karena keturunan darah biru dijuluki Raja Jawa tanpa Mahkota akan tetapi karena pikiran, gagasan, dan kata-kata Tjokroaminoto yang menjadikannya menjadi Raja Jawa tanpa Mahkota. Tjokro berani menantang Belanda, tidak mau tunduk dan menunduk ketika bertemu Belanda.
Dalam wawancara, Anis mengatakan Tjokro melampaui zamannya, Tjokro sudah mempunyai pemikiran wajib sekolah 15 tahun. Tjokro bukan hanya pengajar, pendidik tetapi juga menggerakkan. Tjokro, melampaui guru yang menginspirasi dan mencerahkan. Tjokro paham betul pendidikan sangat dibutuhkan rakyat, dia melihat pendidikan dari efek nyata pada dirinya sendiri, pada muridnya yang memiliki kemampuan wawasan yang luas, memiliki komunikasi yang baik dibandingkan rakyat yang tidak sekolah. Pendidikan dijadikannya sebagai instrumen pergerakan. Tjokro menghormati pikiran orang lain, Tjokro mengajarkan kepada muridnya, tidak dijadikan pengikut namun merangsang muridnya melalui dialog untuk tumbuh hidup dengan pemikirannya masing-masing di zamannya sendiri.
SAJAK 1914 BUAH KARYA HOS TJOKROAMINOTO yang dimuat di jurnal dunia bergerak

Lelap terus dan kau pun dipuji
Sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap
Sehingga hanya kulit yang tersisa

Siapa pula yang tak memuji sapi dan kerbau
Orang dapat menyuruhnya kerja dan memakan dagingnya
Kalau mereka tahu hak-haknya
Orangpun menamakannya pongah
Karena tidak mau ditindas

Bahasamu terpuji halus diseluruh dunia dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain
Dalam bahasa kromo dan orang lain
Menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan
Kau pun dianggap kurang ajar

Namun ada kritikan untuk film guru bangsa setelah saya tonton pada tanggal 14 April 2015
1.      Efek make up yang kentara jelas kumis palsu Tjokroaminoto yang diperankan Reza Rahadian karena menggunakan lem perekat yang terlihat jelas saat adegan awal introgasi Belanda terhadap Tjokro di penjara Kali Sosok. Sebaiknya aktor diberi waktu untuk menumbuhkan kumis. Hindari lem perekat. Agar efek alami dan natural yang ditunjukkan.
2.      Saya kurang setuju dengan tokoh stella yang diperankan chelsea yang terlalu banyak muncul, menurut saya tokoh ini hanya figuran bukan tokoh penting tapi terlalu sering muncul dan menurut saya hanya mengganggu.
3.      Alur yang disuguhkan membuat rancu, sebaiknya jika mau dilakukan alur maju mundur , jangan bolak balik, tapi fokus dulu pada alur maju menceritakan yang terjadi pada saat itu, kemudian baru menceritakan alur mundurnya sampai tuntas jangan bolak balik ke penjara Kali Sosok menjadikan rancu dan bingung, setelah diulas cerita mundur untuk kembali ke maju tidak masalah.
Saya puji acting apik dari Reza Rahadian yang berhasil membawakan tokoh HOS Tjokroaminoto yang berkharismatik.
Kata HOS Tjokroaminoto yang menginspirasi saya:
“HIJRAH”
Satu-satunya cara untuk berhijrah adalah setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid.
Saya ingin menjadi kapas putih, tanpa noda, saat mati, hidung dan telinga saya akan disumpal dengan kapas.

HOS Tjokroaminoto.

Sabtu, 23 Maret 2013

BABAD BANYUMAS DAN VERSI-VERSINYA 5

Tabel 4. Perbandingan Tiga Teks Versi Sejarah Wirasaba dengan TSBB
Sejarah Wirasaba Babat Banyumas
(BR.58)
SJ. 17 FS UI Tedhakan Serat Babad
Banyumas
I Dha 18
II Sin 18
III Asm 38
IV Mas 47
V Kin 42
VI Dur 12
VII Asm 34
VIII Dur 20
I Asm 12 I Asm 12 I Asm 12 IX Pan 20
II Dur 31 II Dur 31 II Dur 31 X Puc 47
III Sin 26 III Sin 26 III Sin 26 XI Mij 26
IV Kin 32 IV Kin 33 IV Kin 33 XII Sin 18
V Dha 68 V Dha 68 V Dha 68 XIII Kin 18
VI Sin 34 VI Sin 34 VI Sin 34 XIV Sin 40
VII Mij 22 VII Mij 22 VII Mij 22 XV Gam 17
VIII Pan 30 VIII Pan 30 VIII Pan 30 XVI Pan 30
IX Meg 35 IX Meg 35 IX Meg 35 XVII Meg 35
X Asm 35 X Asm 35 X Asm 35 XVIII Asm 36
XI Dha 8 XI Dha 13 XI Dha 13 XIX Dha 13
XII Asm 35 XII Asm 39 XII Asm 39 XX Asm 39
XIII Sin 19 XIII Sin 19 XIII Sin 19 XXI Sin 19
XIV Mas 9 XIV Mas 15 XIV Mas 15 XXII Mas 15
-- XV Dha 15 XV Dha 15 XXIII Dha 15
Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. Singkatan Asm,
Gam, dll., adalah nama pupuh Asmarandana, Gambuh, sedangkan
angka Arab menunjukkan jumlah bait.
98 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Meskipun Babat Banyumas (BtB) disalin berdasarkan Sejarah Wirasaba
(SW), tetapi ternyata terdapat perbedaan dalam jumlah bait pada empat pupuh,
yakni pupuh IV Kinanthi 33 (BtB), sedangkan 32 (SW); XI Dhandhanggula
13 (BtB) sedangkan 8 (SW); X Asmarandana 39 (BtB), sedangkan
35 (SW); XIV Maskumambang 15 (BtB), sedangkan 9 (SW); dan XV
Dhandhanggula 15 (BtB), sedangkan tidak ada satu bait pun (SW). Perbedaan
jumlah bait itu terjadi karena naskah yang disalin oleh Mulyareja terdapat
bagian naskah yang hilang atau rusak dan tidak terbaca. Namun, Mulyareja
masih melampirkan silsilah Wirasaba yang dimulai dari Raden
Katuhu (Adipati Wira Utama) sampai dengan Tumenggung Yudanagara
(Raden Gandakusuma).
Tampaknya bahwa penulis teks TSBB menunjukkan kreativitasnya. Hal
itu diperlihatkan dengan menggubah teks dalam bentuk tembang yang lain
daripada teks aslinya. Sesungguhnya kreativitas penulis sudah tampak pada
bagaimana ia mencoba menyusun sejarah pangiwa, memanjangkan kisah
hidup Raden Putra dan proses tampilnya Raden Kaduhu menjadi adipati
Wirasaba, menampilkan riwayat masa muda Mranggi Kejawar dan pendiri
Banyumas (Bagus Mangun). Agaknya sang penulis belum puas seandainya
ia hanya menyalin saja dari teks aslinya setelah disusunnya bagian teks yang
baru. Pupuh I Asmarandana, 12 bait berisi kisah singkat hubungan Majapahit
dengan Pajajaran yang diselingi beberapa orang adipati Wirasaba, termasuk
Katuhu, menjadi pupuh IX Pangkur (20 bait). Selebihnya, mulai pupuh II
hingga pupuh VII merupakan teks yang ditransformasikan dalam bentuk
tembang lain. Pupuh II Durma (31 bait) menjadi X Pucung (47), III Sin (26)
menjadi XI Mijil (26), IV Kinanthi (33) menjadi XII Sinom (18), V
Dhandhanggula (68) menjadi XIII Kinanthi (18), VI Sinom (34) menjadi
XIV Sinom (40), dan VII Mijil (22) menjadi XV Gambuh (17).
Mulai pupuh XVI hingga XXIII berisi teks yang sama dengan teks BtB,
kecuali pupuh XVIII. Pada teks BtB, pupuh X Asmarandana hanya berisi 35
bait, sedangkan pupuh XVIII ada 36 bait. Perbedaan satu bait tersebut
disebabkan oleh pengembangan bait 9 pupuh X menjadi bait 9-10 pupuh
XVIII. Dengan demikian, teks TSBB ikut melestarikan separo lebih teks SW
(Priyadi 2004).
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 99

KESIMPULAN
Ada tujuh versi baru Babad Banyumas, yakni (1) Jayawinata, (2)
Adimulya, (3) Panenggak Widodo-Nakim, (4) Oemarmadi dan Koesnadi, (5)
Kasman Soerawidjaja, (6) Keluarga Baru (Dipadiwiryan, Dipayudan
Banjarnegara, Cakrawedanan, Mertadiredjan, Gandasubratan, dan keluarga
Banjar-Gripit-Badakarya), dan (7) Sejarah Wirasaba. Selain itu, ada dua
versi lain, yaitu (1) Babad Banyumas Kalibening (berbahasa Jawa
Tengahan) dan (2) versi PRBN (berbahasa Jawa Kuna). Kedua versi terakhir
ini sangat penting untuk mengetahui jalur-jalur penulisan Babad Banyumas
karena keduanya merupakan teks yang tertua.
DAFTAR PUSTAKA
Atja & Danasasmita, S. 1981. Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (Naskah
Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi). Bandung: Proyek Pengembangan
Permuseuman Jawa Barat.
Ayatrohaedi & Atja. 1991. Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Parwa 2
Sargah 4. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Behrend, T.E. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara, Jilid 1.
Museum Sono Budoyo Yogyakarta. Jakarta: Djambatan.
Behrend, T.E. & Pudjiastuti, T. 1997. Katalog Induk Naskah-naskah
Nusantara, Jilid 3B. Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia-EFEO.
Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara, Jilid 4. Perpustakaan
Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-
EFEO.
Djamaris, E. 1977. Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi . Bahasa
dan Sastra. Tahun III. No.1.
Ekadjati, E.S. 1999. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta: Masyarakat
Pernaskahan Nusantara-Yayasan Obor Indonesia.
Ekadjati, E.S. & Darsa, U.A. 1999. Katalog Induk Naskah-naskah
Nusantara, Jilid 5A. Jawa Barat, Koleksi Lima Lembaga. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia-EFEO.
Holle, K.F. 1877. Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten.
Buitenzorg: Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
100 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Kartosoedirdjo, A.M. 1941. Panembahan Lawet. Yogyakarta: Museum Sana
Budaya.
Kartosoedirdjo, A.M. 1967. Diktat Riwajat Purbalingga. Purbalingga: tanpa
penerbit.
Knebel, J. 1900. Babad Pasir, Volgens een Banjoemaasch Handschrift, met
vertaling VBG, deel LI: 1-155.
Knebel, J. 1901. Babad Banyumas, Volgens een Banjoemaasch Handschrift
beschreven TBG, deel XLIII: 397-443.
Padmapuspita, J. 1966. Pararaton, Teks Bahasa Kawi Terdjemahan Bahasa
Indonesia. Jogjakarta: Taman Siswa.
Pigeaud, Th. G. Th. 1932. Kangdjeng Pangeran Arja Adipati Danoeredja
VII Djawa, XXI: 34-40.
Pigeaud, Th. G. Th. 1967. Literature of Java. Volume I. The Hague: Martinus
Nijhoff.
Pigeaud, Th. G. Th. 1968. Literature of Java. Volume II. The Hague: Martinus
Nijhoff.
Priyadi, S. 1990. Tinjauan Awal tentang Serat Babad Banyumas sebagai
Sumber Sejarah Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Nasional
V. Semarang: Jarahnitra, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen
Pendidikan & Kebudayaan.
Priyadi, S. 1991. Babad Banyumas Kalibening Laporan Penelitian. Purwokerto:
IKIP Muhammadiyah Purwokerto.
Priyadi, S. 1992. Prabu Siliwangi dalam Historiografi Babad Laporan
Penelitian. Purwokerto: IKIP Muhammadiyah Purwowkerto.
Priyadi, S. 1993. Hubungan Sunda dengan Tradisi Penulisan Babad di
Daerah Banyumas Makalah Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora
II dalam rangka Purnabakti Prof. Dr. Darsiti Soeratman dan
Prof. Drs. M. Ramlan. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Gadjah
Mada.
Priyadi, S. 1995a. Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks, Terjemahan,
dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif Tesis
S-2 pada program Pascasarjana, Yogyakarta: Universitas Gadjah
Mada.
Priyadi, S. 1995b. Sejarah Pangiwa dalam Tedhakan Serat Babad Banyumas
, Kebudayaan. No. 10. Th. V: 63-67. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 101
Priyadi, S. 1995c. Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks,
Terjemahan, dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif
Berkala Penelitian Pasca Sarjana. Jilid 8, No.4A, November. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Priyadi, S. 1996. Teks Babad Pasir dalam Babad Banyumas Tradisi Naskah
Dipayudan. Makalah dipresentasikan dalam Simposium Internasional
Ilmu-ilmu Humaniora IV. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas
Gadjah Mada.
Priyadi, S. 1997a. Sejarah Penulisan Babad Banyumas dalam Lembaran
Sastra, edisi khusus No. 23. Semarang: Fakultas Sastra, Universitas
Diponegoro.
Priyadi, S. 1997b. Babad Banyumas Versi Wirjaatmadjan: Fungsi dan
Intertekstual . Laporan Penelitian, Purwokerto: Universitas Muhammadiyah
Purwokerto.
Priyadi, S. 1998. Penelitian Terakhir Babad Banyumas . Makalah Simposium
Internasional Ilmu-ilmu Humaniora IV dalam rangka Purnabakti
Prof. Dr. Umar Kayam dan Prof. Dr. Djoko Soekiman. Yogyakarta: Fakultas
Sastra, Universitas Gadjah Mada.
Priyadi, S. 1999a. Aspek-aspek Budaya Banyumasan . Laporan Penelitian.
Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Priyadi, S. 1999b. Banyumas: antara Legenda dan Sejarah . Kajian Sastra.
No. 26/XXIII. Semarang: Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro.
Priyadi, S. 1999c. Babad Banyumas dalam Teks Pustaka Rajya-rajya i
Bhumi Nusantara . Kajian Sastra. No. 27+28/XXIII. Semarang:
Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro.
Priyadi, S. 2003. Babad Banyumas: Hubungan Banyumas dengan Majapahit
, Prasasti, Volume 51, Th. XIII, November. Surabaya: Fakultas Bahasa
dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Priyadi, S. 2004. Transformasi Teks Babat Banyumas (BR. 58) . Diksi,
Vol. 11, No.1, Januari. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas
Negeri Yogyakarta.
Soedarmadji, 1996. Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya, Wilayah
Pembantu Bupati Wanadadi Kabupaten Banjarnegara. Purwokerto:
Lembaga Studi Banyumas.
Sutaarga, M.A. 1984. Prabu Siliwangi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Uhlenbeck, E.M. 1964. A Critical Survey of Studies on Languages of Java
and Madura. s-Gravenhage: Martinus Nijhiff.
102 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Werdoyo, T. 1990. Tan Jing Sing dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta.
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.




_The End_

BABAD BANYUMAS DAN VERSI-VERSINYA 4

  • Versi Danuredjan (Gancaran)
Versi ini merupakan hasil transformasi teks dari versi Danuredjan
(tembang). Versi ini meliputi Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran
(koleksi Museum Sana Budaya, SB 69), Sadjarah Padjadjaran Baboning
Tjarios saking Adipati Wiradhentaha Boepati Priangan Djilid I (koleksi
Soedarmadji), Sadjarah Padjadjaran Baboning Tjarios saking Adipati
Wiradhentaha Boepati Priangan Manondjaja Djilid II (koleksi Soedarmadji),
Naskah Krandji-Kedhoengwoeloeh (karya Wirjasendjaja, koleksi
Soedarmadji), Inti Silsilah dan Sedjarah Banjumas (karya R.M. S.
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 91
Brotodiredjo dan R. Ngatidjo Darmosuwondo), dan Babadipun Dusun
Perdikan Gumelem (karya P. Sastromihardjo, koleksi Soedarmadji).

Ada empat naskah baru, yakni (1) Serat Babad utawi Sejarah ing
Wirasaba Banyumas mendhet waton saking Serat Babad Karaton Jawi ing
Mataram, (2) Punika Sarasilah Toyamas, (3) Silsilah Banyumas, dan (4)
Soedjarah ing Banjoemas. Keempat naskah tersebut berisi kumpulan teks
silsilah yang mengacu kepada Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran
(TSSJ). Secara umum, naskah-naskah tersebut menambah silsilah yang
terkait dengan Banyumas, tetapi teks tambahan itu tidak termuat dalam
Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran. Naskah pertama yang memiliki
judul yang cukup panjang itu ditulis pada kertas yang dikeluarkan oleh
Cooperati Bondo Sepolo, Pendrikan Lor Semarang, 30-10-1930. Naskah
setebal 86 halaman (ukuran 21,5 X 16,5 cm) berisi teks silsilah Bani Asin
(Tjarijos trah Baniasin dhateng Toja-djene, Toemenggoeng Joedhanagara
kaping 3), Tjarijos Bagoes Koenting ingkang pinoendhoet poetra Soenan
Praboe ing Kartasoera, dan Tjarijos Raden Toemenggoeng Joedhanagara
kaping 3 Boepati Toja-djene, serta Persapa Adipati Warga hoetama I. Pada
halaman 85 terdapat keterangan bahwa yang menyalin naskah adalah Raden
Mas Mangkusubrata, asisten wedana Gandamanan, Yogyakarta. Selanjutnya,
naskah disalin kembali di Semarang yang diselesaikan oleh penyalinnya
(anonim) pada tanggal 20 Mei 1932.

Naskah kedua seluruhnya ada 31 halaman (ukuran 21,5 X 17 cm). Teks
tersebut berisi silsilah dari Brawijaya (Hayam Wuruk sampai Mas Ngabehi
Kertadiredja), Pengenget-enget, silsilah Mas Sudaryat, situs keramat
Ciroyom Ajibarang, Adam Tengen (sejarah panengen), sejarah pangiwa
sampai Mataram, silsilah Pajajaran, Galuh Pasirluhur, silsilah Pasirbatang,
Negeri Purwacarita, keraton Pengging, dan keraton Pajang.
Naskah ketiga tebalnya 92 halaman dan ditambah 14 halaman lampiran
yang berisi ringkasan teks Babad Pekalongan. Naskah yang disusun oleh
Raden Soekrisno di Semarang, 29 Desember 1985 itu berisi teks yang
beraneka ragam, bahkan ada kesan seperti sejarah nasional. Sejarah
Indonesia dari Kutei sampai Demak dipakai sebagai pengantar teks (hlm. 1-
28), yaitu bab I-XVII. Fenomena seperti ini juga tampak jelas pada karya
Sejarah Cakrawedanan. Teks-teks lain yang tidak terkait dengan Banyumas
tampak pada bab XXII, XXIV, XXV, XXVI, XXVIII, XXX, XXXI, dan
XXXII. Teks-teks yang relevan dengan versi Danuredjan gancaran terlihat
jelas pada bab XVII (Raden Aria Baribin), XVIII (Kadipaten Wirasaba),
92 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
XIX (Para bupati tlatah Banyumas), XX (silsilah Kadipaten Pasirluhur lan
Wirasaba), XXI (Adipati Danurejo I dumugi Danurejo VII), XXIII (Raden
Tumenggung Secodiningrat), XXVII (silsilah Galuh/Pakuan, Pajajaran, lan
Pasirluhur), dan XXIX (tedhak turun saking Kadipaten Wirasaba,
kawiwitan saking putra wayah Raden Tumenggung Mertayuda I ing
Banyumas). Bagian XXIII berisi kisah Raden Tumenggung Secodiningrat
sebagai salah seorang cucu Kangjeng Raden Adipati Danuredja I (lihat
Werdoyo, 1990).

Naskah keempat merupakan naskah cetakan De Boer, Purwokerto yang
berjudul Serat Soedjarah deel I. Naskah tersebut disusun oleh Soerjo
Winarso di Purwokerto. Naskah berisi sembilan teks, yaitu Soedjarah ing
Banjoemas, Soedjarah ing Karanglo, Soedjarah ing Medijoen, Soedjarah
ing Djoeroe Mertanen, Soedjarah ing Pati, Soedjarah ing Soemenep,
Soedjarah ing Praboe Estri ing Padjang, Soedjarah ing Madoera, dan
Soedjarah ing Lemboe Peteng ing Taroeb doemoegi Ingkang Sinoewoen
Praboe Mangkoerat ing Kartasoera. Teks pertama memuat kisah Raden
Baribin sampai silsilah dinasti Banyumas (Kyai Mertanegara) (hlm. 1-22).
Pada halaman 3, ada keterangan agar pembaca mengecek kembali teks
Babad Banyumas karya Patih Wirjaatmadja. Agaknya teks BWK dan SSB
juga menjadi acuan. Hal itu tampak dalam sisipan teks Babad Pasir. Di situ,
Banyak Catra nikah dengan Dewi Raras (BWK dan SSB:Ardiraras) dan
Raden Tambangan kawin dengan Dewi Lungge. Keterangan semacam itu
disebut oleh teks BWK dan SSB (termasuk hasil transformasinya),
sedangkan silsilahnya mengacu kepada teks TSSJ.
  • Versi Keluarga Baru
Ada fenomena yang menarik dalam perkembangan penulisan babad di
Banyumas, yaitu teks-teks Babad Banyumas ditransformasikan, disalin, dan
ditambahkan silsilah dari keluarga tertentu sehingga mencirikan keluarga
tersebut. Di sini, ada enam naskah yang memuat teks keluarga, yakni (1)
Serat Sarasilah, (2) Silsilah lan Sedjarah Banjumas, (3) Sadjarah
Banjoemas Tedhak Wirasaba, (4) Sejarah dan Silsilah Bupati Banyumas dan
Keturunannya, (5) Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya (naskah
Penatus Bawang), serta (6) Sujarah saking Dhusun Makam.
Serat Sarasilah seluruhnnya ada 36 halaman (ukuran 21 X 11,5 cm).
Naskah tersebut merupakan salinan yang ketiga yang dilakukan oleh
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 93
Atmodihardjo di desa Wero, distrik Gombong, tanggal 10 April 1935.
Naskah induk merupakan milik Raden Prawiradiwirya di Banjarnegara. Pada
tanggal 6 Agustus 1916, naskah disalin dengan penambahan silsilah
keturunan Raden Adipati Dipayuda (bupati Banjarnegara pertama) dan Patih
Raden Dipadiwirya. Selanjutnya, pada tahun 1925 naskah disalin kembali
dan teksnya berkembang. Sebelumnya, hanya penambahan anak-anak dari
kedua tokoh sentral di Banjarnegara, maka pada penyalinan yang kedua
ditambah silsilah keturunan Patih Raden Dipadiwirya sampai generasi
keempat (buyut). Penambahan tersebut disesuaikan dengan kondisi
zamannya. Penyalinan ketiga juga ada penambahan berupa kisah-kisah
leluhur, seperti Raden Baribin, Raden Tumenggung Yudanegara I, dan
Raden Tumenggung Dipayuda Banjarnegara. Perlu diketahui bahwa Serat
Sarasilah ini mendapat tambahan teks dari Babad Banyumas Wirjaatmadjan,
khususnya kisah-kisah leluhur tadi yang berbentuk tradisi lisan. Serat Sarasilah
milik Raden Mas Prawironoto adalah teks keluarga Dipadiwiryan.
Silsilah lan Sedjarah Banjumas merupakan karya Raden Adiman Wirjokoesoemo
(kepala inspeksi Sekolah Rakyat di Purwokerto). Naskah ditulis
pada bulan April 1957 di Purwokerto. Silsilah dimulai dari Brawijaya Majapahit
yang diteruskan silsilah Wirasaba dan Banyumas. Silsilah yang terakhir
ini menjadi padanan menuju keluarga-keluarga bupati di Cilacap,
Banyumas (Kanoman), Kenduruan Roma, Dipayudan Banjarnegara, keluarga
Dipadiwiryan Banjarnegara (hlm. 1-22). Mulai halaman 22 disajikan
silsilah tambahan yang terkait dengan Banyumas, yaitu (1) Silsilah Pekalongan,
(2) Silsilah Danuredja I-VII, (3) Silsilah Raden Baribin sampai Warga
Utama II, (4) petikan Babad Pasir, (5) Perang Jenar, (6) Sedjarah Ambal
dan Kolopaking, (7) keris Jaka Kaiman, dan (8) Kyai Arsantaka (hlm. 22-
52).
Sedjarah Banjoemas Tedhak Wirasaba merupakan naskah koleksi
Kasman Soerawidjaja di Purwokerto. Naskah tersebut tebalnya 22 halaman
kuarto. Naskah ini berisi teks silsilah dari Raden Baribin sampai keturunan
Yudanegara II. Silsilah tersebut berkembang menjadi silsilah keluarga Dipayudan
Banjarnegara dan Cakrawedanan (Kasepuhan Banyumas), serta Mertadiredjan
di Purwokerto.
Sejarah dan Silsilah Bupati Banyumas dan Keturunannya adalah
naskah yang berisi teks keluarga besar Gandasubratan. Yang menyusun
naskah tersebut adalah Raden Soedana Tjakra Gandasoebrata. Naskah setebal
50 halaman kuarto itu memakai padanan silsilah dari Pajajaran (Prabu
94 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Silihwangi) dan Prabu Brawijaya III. Lalu, silsilah dikembangkan sampai
Yudanegara V. Pemecatan Yudanegara V sebagai bupati Banyumas memunculkan
trah Bratadiningratan. Di sini, ada tiga tokoh yang memakai nama
Mertadiredja sebagai bupati Banyumas Kanoman, bupati Purwokerto, dan
bupati Purwokerto (lalu pindah Banyumas). Sesudah Mertadiredja III, bupati
Banyumas memakai gelar Pangeran Aria Gandasoebrata. Nama bupati yang
terakhir ini dipakai sebagai nama keluarga yang baru oleh keturunannya. Keluarga
Gandasubratan merupakan bagian dari keluarga Bratadiningratan
(Mertadiredjan). Silsilah keluarga Gandasubratan berisi silsilah lima generasi
dari Pangeran Aria Gandasoebrata sampai canggahnya.
Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya adalah naskah Penatus
Bawang (Banjarnegara). Naskah tebalnya 56 halaman (ukuran 25 X 16 cm).
Selain itu, agaknya ada naskah yang berisi teks yang dekat dengan naskah
Penatus Bawang, yakni Sujarah saking Dhusun Makam. Naskah desa
Makam ini merupakan karya salinan Ngisroen Mangoenwidjaja di Gunung
Batu, Bogor, 2-8 Pebruari 1972. Salinan Ngisroen menjadi koleksi Soepirman
Martadiwirja (mantan Patih Banjarnegara di Purwokerto). Naskah Ngisroen
diketik pada kertas berukuran folio (40 halaman). Penelitian Soedarmadji
(1996:3) mengenai kedua naskah tersebut menyatakan bahwa naskah
pertama hanya separo naskah kedua. Sujarah saking Dhusun Makam memuat
23 teks, tetapi yang terkait dengan teks Babad Banyumas adalah Sudjarah
tijang Wirasaba asal saking Negari Madjapait dhumugi Ki Nurngali
di Kedung Uter. Dua teks di atas mencerminkan adanya kecenderungan untuk
mengangkat kekerabatan Banjar-Gripit-Badakarya, sedangkan teks lainnya
hanya sebagai pelengkap. Teks Babad Banyumas yang dibicarakan di
atas berfungsi untuk melegitimasikan pendiri Banyumas beserta seluruh
keturunannya (Priyadi 1999a: 30-39).
  • Versi Sejarah Wirasaba
Sejarah Wirasaba diduga memiliki mata rantai dengan tradisi teks yang
lebih muda, yakni Babat Banyumas BR. 58 dan Tedhakan Serat Babad
Banyumas (koleksi Perpustakaan Nasional) (Behrend, 1998:60 & 223). Teks
yang terkandung dalam kedua naskah koleksi Perpustakaan Nasional itu merupakan
naskah yang pantas dicermati karena ia diduga sebagai naskah yang
dihasilkan dari tradisi Sejarah Wirasaba. Tradisi teks Sejarah Wirasaba selama
ini dikenal sebagai tradisi yang melahirkan teks-teks babad versi BanPriyadi,
Babad Banyumas dan Versi-versinya 95
jarnegara dan Wirjaatmadjan, sedangkan teks Tedhakan Serat Babad
Banyumas yang disebut sebagai teks Mertadiredjan (koleksi Perpustakaan
Nasional Hds.B.G. 526 dan Kangjeng Pangeran Aria Mertadiredja III) merupakan
teks yang menonjol karena memuat tradisi silsilah kiri atau sejarah
pangiwa (bdk. Ekadjati dan Darsa, 1999:211-212). Sekilas bahwa teks Babat
Banyumas BR. 58 menampakkan diri sebagai tradisi babad yang terbuka
karena terkontaminasi dari tradisi Sejarah Wirasaba dan versi Banjarnegara.
Selanjutnya, teks Sejarah Wirasaba mendapat tanggapan pembaca dalam
bentuk transformasi oleh penulis Babat Banyumas dan Tedhakan Serat Babad
Banyumas.

Naskah Babat Banyumas BR. 58 adalah naskah koleksi Brandes yang
tersimpan pada Perpustakaan Nasional RI dengan kode BR. 58. Naskah ini
berada pada satu bundel dengan naskah Babad Bandawasa (KBG. 333), Babad
Mataram (KBG. 598), dan Babad Surapati (BR. 585). Pada tahun 1996,
Perpustakaan Nasional mentransliterasikan dan menerjemahkan keempat
naskah tersebut. BtB ini ditulis pada kertas berukuran 21 X 16,5 cm. Tebal
naskah meliputi 84 halaman dan setiap halaman terdiri dari 16 baris. Naskah
berhuruf dan berbahasa Jawa ini berisi teks yang berbentuk tembang
macapat yang seluruhnya ada 15 pupuh. Naskah kertas BtB sudah lapuk,
tetapi tulisannya masih terbaca. Hasil transliterasi Perpustakaan Nasional
menunjukkan bahwa banyak sekali salah baca terhadap teksnya. Hal itu
menyebabkan hasil terjemahannya juga banyak penyimpangan yang tidak
sesuai dengan teks aslinya. Kemungkinan di samping banyak tulisannya
yang rusak, juga orang yang mengerjakannya tidak mengenal tradisi teks
Babad Banyumas pada umumnya.

Naskah Sejarah Wirasaba merupakan koleksi pribadi atau perorangan
yang tersimpan di desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Kabupaten
Purbalingga. Jadi, naskah tersebut berasal dari situs sejarah pra-Banyumas
sebagai cikal-bakal. Sejarah Wirasaba adalah naskah yang selalu disalinsalin
sehingga eksistensinya tampak sampai sekarang. SW juga merupakan
naskah berhuruf dan berbahasa Jawa. Naskah ini berisi teks 14 pupuh
tembang macapat. Pada bagian belakang ditemukan silsilah Banyumas dari
Adipati Wira Utama (Raden Katuhu) hingga Raden Tumenggung
Yudanegara (Raden Gandakusuma). Naskah koleksi Mad Marta ini ditulis
pada kertas yang berukuran 16,5 X 21 cm. Tebal naskah 90 halaman dengan
perincian halaman 1-85 berisi tembang macapat, sedangkan halaman 86-90
berisi silsilah yang disebut di atas. Pada pupuh I, bait 2 terdapat keterangan
96 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
waktu penulisan, yaitu sengkalan yang berbunyi swara naga giri sangi.
Agaknya kata sangi merupakan kesalahan baca dan salin, seharusnya nabi.
Sengkalan tersebut berarti angka tahun Jawa 1787 atau 1858 masehi.
Kiranya naskah yang sampai pada masa kini adalah naskah salinan ketiga
dari naskah tahun 1787 (1858). Penyalinnya ternyata bukan penduduk
Wirasaba yang bernama Mulyareja. Salinan diselesaikan pada tanggal 24
Agustus 1956. Pada halaman 90 terdapat keterangan yang menyatakan
bahwa Mulyareja lahir pada hari Senin Kliwon 27 Desember 1894. Di
samping itu, pada halaman 72 terdapat catatan tentang hilangnya beberapa
halaman. Pada halaman 10-11 ada keterangan hilangnya satu bait.
Naskah Tedhakan Serat Babad Banyumas (selanjutnya disingkat
TSBB) merupakan naskah koleksi Museum Nasional Jakarta dengan kode
Jav. Hds. B. G. No. 526 (sekarang koleksi Perpustakaan Nasional RI).
Naskah ini memakai judul yang cukup panjang, yaitu Punika Tedhakan
Serat Babad Banyumas sambutan saking Raden Adipati Mertadiredja ing
Banyumas. Judul itu diberikan oleh penyalinnya yang bernama Raden
Natahamijaya, seorang pejabat carik jaksa dari Magetan. Penyalinan
naskah tersebut atas permintaan J. Knebel yang menjabat asisten residen di
Magetan. Oleh Knebel, naskah salinan itu diserahkan kepada Lembaga
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada bulan April
1904 dan tercatat pada bulan Juli 1928. Naskah ditulis pada kertas berukuran
33 X 21,5 cm. Naskah setebal 83 halaman itu berisi 23 pupuh tembang
macapat (halaman 1-78) dan tambahan atau sambetan (halaman 79-81) yang
berbentuk prosa. Dua halaman depan berisi judul dan nama penyalinnya.
Naskah TSBB merupakan naskah salinan dari naskah koleksi Kangjeng
Pangeran Aria Mertadiredja III, yang menjabat bupati Purwokerto (1860-
1879) dan bupati Banyumas (1879-1913).

Jika mencermati ketiga teks, maka Babat Banyumas tampaknya
merupakan teks yang menjembatani antara tradisi lama (Wirasaba) dengan
tradisi baru (teks Mertadiredjan Banyumas). Hal itu dapat dilihat pada
perbandingan teks antara naskah Babat Banyumas dengan Sejarah Wirasaba.
Kedua teks perbedaannya tidak begitu mencolok, bahkan naskah Babat
Banyumas itu merupakan salinan dari naskah Sejarah Wirasaba. Sejarah
Wirasaba yang ditemukan sekarang memang banyak bagian yang hilang dan
tidak lengkap sehingga ada perbedaan jumlah bait pada pupuh tertentu,
bahkan pupuh XV pada Babat Banyumas tidak ditemukan. Kemungkinan
naskah pada bagian belakang Sejarah Wirasaba hilang beberapa halaman
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 97
sebelum disalin oleh Mulyareja. Dengan demikian, Babat Banyumas adalah
penerus tradisi naskah Wirasaba.

Perbandingan teks Babat Banyumas (Btb) dengan Tedhakan Serat
Babad Banyumas (TSBB) menunjukkan bahwa keduanya menampakkan
kesamaan atau kedekatan teksnya pada pupuh VIII-XV (BtB) dan pupuh
XVI-XXIII (TSBB). Jadi, ada 8 pupuh. Pupuh I-VIII (TSBB) berisi teks
yang berbeda dengan teks-teks lain Babad Banyumas, termasuk BtB. Mulai
pupuh IX hingga XV (TSBB) merupakan transformasi teks dari tembang
yang satu ke tembang yang lain, yaitu pupuh I Asmarandana menjadi pupuh
IX Pangkur, II Durma menjadi X Pucung, III Sinom menjadi XI Mijil, IV
Kinanthi menjadi XII Sinom, V Dhandhanggula menjadi XIII Kinanthi, VI
Sinom (34 bait) menjadi XIV Sinom (40 bait), dan VII Mijil menjadi XV
Gambuh. Selanjutnya, untuk memahami perbandingan teks antara ketiga
naskah tersebut dibuat tabel 4 di bawah ini.
(bersambung)

BABAD BANYUMAS DAN VERSI-VERSINYA 3

  • Versi Kasman Soerawidjaja
Ada satu naskah, yaitu Babad Wirasaba lan Sedjarah Banjumas
(BWSB) yang tidak termasuk versi Wirjaatmadjan, tetapi tergolong teks
transformasi dari versi Dipayudan. BWSB adalah karya transformasi Kasman
Soerawidjaja. Naskah tersebut ditulis di Purwokerto, 25 April 1959.
Kasman Soerawidjaja menyebut beberapa naskah yang dipakai sebagai bahan
penyusunan BWSB: (1) Buku Babad Banjumas mawi sekar (puisi),
kaserat ing Banjumas tg. 27 Djumadilawal, Be 1808 utawi tg. 9 Mei 1879,
(2) Buku Babad Banjumas gantjaran (prosa), kaserat ing Bandjarnegara,
Agustus 1845, (3) Babad Tanah Djawi, djilid I, (4) Nitik babad saha tjengkorongan
Sedjarah Tanah Djawi, (5) Sedjarah Indonesia. Naskah pertama
dapat diidentifikasikan sebagai Babad Wirasaba Kejawar (BWK). Hal itu
dapat dilihat dari tanggal 9 Mei 1879. Namun, Kasman membuat kesalahan
dengan menulis tanggal 27 Jumadilawal Be 1808, seharusnya tanggal 17
Jumadilawal. Maka dari itu, teks BWSB dapat dikatakan sebagai hasil transformasi
dari BWK, yaitu dari tembang ke gancaran. Halaman 1-158 berisi
teks BWK, sedangkan 159-200 berisi teks kontaminasi Babad Banjumas
(prosa), Babad Tanah Djawi, karya-karya babad dan sejarah Jawa, serta Sejarah
Indonesia.
Sayang sekali, naskah kedua, yakni Babad Banjumas (prosa) belum dapat
diidentifikasikan. Menilik tempat dan waktu penulisan agaknya naskah
tersebut termasuk versi transformasi dari versi Dipayudan, atau dengan kata
lain babad damelan Banjar. Tahun 1845 adalah tahun penulisan Sujarah
Banyumas Danukrama (SBD). Namun, SBD adalah teks tembang, bukan
gancaran. Teks yang terdapat pada halaman 158-200 sangat dekat dengan
teks Babad Banjoemas karya Wirjaatmadja yang diterbitkan oleh Electrische
Drukkerij TAN Poerbolinggo pada halaman 19-38. Namun, tahun 1845 Patih
Wirjaatmadja belum menulis naskahnya karena pada tanggal 25 Oktober
1898, beliau baru mendapat perintah dari Asisten Residen Purwokerto
W.P.D. de Wolff van Westerrode. Jadi, bisa diduga bahwa naskah yang ditulis
tahun 1845 dijadikan bahan acuan oleh Wirjaatmadja, tetapi naskah itu tidak
sampai kepada kita sehingga naskah itu tergolong missing-link. Naskah
yang ditulis Wirjaatmadja memuat peristiwa sampai tahun 1845. Pada tahun
1845, ada peristiwa pembuatan jalan raya dari Buntu sampai Gombong,
tetapi Kasman tidak menuturkannya. Karya Kasman tidak mencantumkan
peristiwa-peristiwa periode 1830-1845. Pada tahun 1845, Wirjaatmadja baru
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 87
berumur 14 tahun karena ia lahir pada tahun 1831. Wirjaatmadja menulis
naskah pada usia 67 tahun, tetapi ia tidak menceritakan peristiwa sezaman,
yaitu periode 1845-1898. Barangkali Kasman belum selesai menyalin
naskah berangka tahun 1845 itu, sebaliknya Wirjaatmadja bekerja berdasarkan
naskah tahun 1845 dan Serat Sujarah Banyumas (ditulis periode 1879-
1898). Kedua teks acuan Wirjaatmadja belum ditemukan naskahnya (Priyadi,
1997b:24).
Wirjaatmadja sendiri mengakui bahwa peristiwa-peristiwa pada periode
kolonial merupakan tradisi lisan, yaitu kisah-kisah yang berasal dari orangorang
tua. Jika pengakuan Wirjaatmadja ini benar, maka naskah 1845 memang
tidak memuat peristiwa periode 1830-1845. Oleh karena itu, sudah
sewajarnya Kasman tidak mencantumkan dalam karyanya (BWSB).
Karya Kasman merupakan versi baru, yaitu versi transformasi dari versi
Dipayudan, tetapi tidak masuk versi Wirjaatmadjan. Dengan demikian, versi
Dipayudan telah melahirkan empat versi, yakni versi Wirjaatmadjan, versi
Kasman Soerawidjaja, versi Panenggak Widodo-Nakim, serta versi
Oemarmadi-Koesnadi. Kelima versi tersebut di atas merupakan babad
damelan Banjar yang masuk ke Banyumas. Kiranya kelima versi tadi sangat
populer dan dikenal secara luas di Banyumas karena jumlah naskahnya
secara keseluruhan ada 24 buah.
  • Versi Wirjaatmadjan
Versi Dipayudan melahirkan versi Wirjaatmadjan. Versi yang
berbentuk gancaran ini terdiri dari Babad Banyumas wiwit Kraton Majapahit
(koleksi Soedarmadji), Babad Banjumas wiwit Djaman Kraton Madjapahit
(koleksi Soedarmadji), Babad Banjoemas (terbitan Electrische Drukkerij
TAN Poerbolinggo), dan Babad Banyumas wiwit Majapahit (koleksi
Museum Sana Budaya Yogyakarta, PB.C. 112), Uittreksel uit de Babad
Banjumas (karya Patih Banyumas Poerwasoepradja, cetakan Drukkerij
Providence Poerwokerto), Babad Banyumas (salinan Raden Soemitro), dan
Riwayat Banyumas (terjemahan Adisarwono dari terbitan Poerbolinggo). Di
Perpustakaan Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya)
Universitas Indonesia tersimpan dua naskah, yaitu Babad Banyumas (SJ. 15)
dan Babad Banyumas (SJ. 16) (Behrend & Titik Pudjiastuti, 1997:796-797).
Naskah pertama terdapat identitas penyalinnya, Siswasarjana, sedangkan
naskah kedua menyebut Salsaman sebagai penyuntingnya. Naskah kedua
88 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
agaknya sama dengan naskah koleksi Sono Budoyo (PB.C. 112) (bdk.
Ekadjati, 1999:172). Di sini, ada dua naskah yang baru ditemukan, yaitu
Babad Banjumas (salinan Adimulya) dan Babad Banjumas (salinan Mustafa
Gandasubrata). Kedua naskah disalin berdasarkan Babad Banjoemas
Wirjaatmadjan yang diterbitkan oleh Electrische Drukkerij TAN
Poerbolinggo (lihat Uhlenbeck, 1964: 130). Namun, kedua salinan tersebut
belum selesai. Yang pertama sampai pada halaman 65, sedangkan yang
kedua sampai halaman 39. Halaman 39 tersebut merupakan batas antara
karya Patih Purwokerto, Wirjaatmadja dengan karya Patih Banyumas,
Poerwasoepradja (Priyadi, 1997b). Di situ, Patih Poerwasoepradja melanjutkan
karya Wirjaatmadja.
  • Versi Oemarmadi dan Koesnadi
Babad Banyumas Wirjaatmadjan sebagai karya babad baku juga
melahirkan karya transformasi yang lain, yaitu karya Oemarmadi dan M.
Koesnadi Poerbosewojo. Babad Banjumas karya kedua penulis tersebut
menyatakan pada kata pengantarnya bahwa karya itu ditulis berdasarkan
catatan-catatan leluhur tertanggal 25 Oktober 1898. Tanggal tersebut merupakan
tanggal perintah Asisten Residen Purwokerto, W.P.D. de Wolff van
Westerrode kepada Patih Aria Wirjaatmadja. Ada dugaan bahwa catatan leluhur
itu adalah karya Patih Purwokerto. Di situ, Oemarmadi dan Koesnadi
Poerbosewojo memberi tambahan cerita-cerita dongeng atau legenda yang
terkait dengan sejarah Banyumas. Pada penelitian terdahulu, karya Oemarmadi
dan Koesnadi adalah cabang dari versi Wirjaatmadjan. Kiranya, karya
tersebut adalah versi yang cukup populer di kalangan masyarakat Banyumas
dan disebarluaskan dengan stencil sheet. Agaknya, naskah yang dicetak pada
tahun 1964 tidak terjangkau oleh segala lapisan masyarakat yang membutuhkannya.
Hal itupun masih dianggap kurang sehingga Babad Banjumas Oemarmadi
dan Koesnadi diciptakan kembali oleh Resi Satwa dan disebarluaskan
melalui majalah bulanan Rahayu yang diterbitkan oleh Humas Puspenmas
Kabupaten Dati II Banyumas pada tahun 1976. Resi Satwa menyajikan
teksnya dalam bahasa Jawa, sedangkan Oemarmadi dan Koesnadi menggunakan
bahasa Indonesia. Pada tahun 1980, karya Oemarmadi dan
Koesnadi kembali dipublikasikan melalui Parikesit yang ditulis atau disalin
oleh Ki Tirtakencana. Seperti halnya Resi Satwa, Ki Tirtakencana juga mePriyadi,
Babad Banyumas dan Versi-versinya 89
makai bahasa Jawa. Dongeng dan legenda Banyumasan oleh Ki
Tirtakencana ditempatkan pada bagian belakang. Periode 1984-1985,
suratkabar mingguan Parikesit memuat Babad Banyumas karya Ki Any
Asmara secara bersambung seperti karya Resi Satwa dan Ki Tirtakencana.
Any Asmara mengakui bahwa bahan untuk menulis Babad Banyumas adalah
karya Tirtakencana. Oleh karena itu, karya Any Asmara mirip dengan karya
Tirtakencana.
Resi Satwa, Ki Tirtakencana, dan Ki Any Asmara pada hakikatnya
menyalin dari karya Oemarmadi dan Koesnadi. Ketiganya mengalihbahasakan
dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa. Ki Tirtakencana dan Ki
Any Asmara menambahkan legenda-legenda yang ditemukan di daerah Purbalingga,
yakni Adipati Onje, Embah Narasoma, makam Bantenan, makam
Kyai Wilah, Ardi Lawet, dan makam Girilangen (Susukan, Banjarnegara).
Legenda-legenda dari Purbalingga agaknya memakai karya A.M. Kartosoedirdjo
(1967) yang berjudul Diktat Riwajat Purbalingga yang disebarkan
dengan stencil sheet. A.M. Kartosoedirdjo (1941) juga menulis Babad Purbalingga
yang menjadi koleksi Museum Sana Budaya, Yogyakarta (PB.A.
271).
Di samping itu, di Banyumas juga ditemukan naskah Sejarah Kabupaten
Banyumas karya Sanmardja (Tukang Uang desa Kalisube, Banyumas).
Teks ini adalah terjemahan dari bahasa Indonesia (karya Oemarmadi &
Koesnadi) ke dalam bahasa Jawa, bahkan ditulis dalam huruf Jawa. Teks
hanya berisi kisah dibukanya kota Banyumas hingga Yudanegara IV,
Banyumas dibagi dua, Perang Dipanegara, dan tradisi lisan Kejawar. Di sini,
tidak ada dongeng-dongeng lokal seperti yang terdapat pada teks induk.
  • Versi Panenggak Widodo-Nakim
Versi ini terdiri dari Babad Banyumas dan Sorosilah Keluarga
Tinggarjaya Banyumas (karya Ki Panenggak Widodo) dan Babad Banyumas
(karya Nakim). Karya Ki Panenggak Widodo dan Nakim merupakan cabang
dari versi Wirjaatmadjan. Kedua karya tersebut telah berkembang menjadi
versi transformasi versi Wirjaatmadjan.
Suatu gejala teks yang sangat menarik. Teks versi Wirjaatmadjan selalu
mendapat sambutan pembaca secara terus-menerus. Hal itu terjadi karena
teks-teks Wirjaatmadjan dianggap sebagai buku sejarah Banyumas oleh
masyarakat umum, atau babad baku oleh Patih Poerwasoepradja. Karya
90 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Wirjaatmadja merupakan karya yang berfungsi sebagai panduan bagi
pembaca awal untuk memasuki teks Babad Banyumas, khususnya babad
damelan Banjar (teks-teks tembang) yang masuk ke Banyumas melalui
kepatihan Banyumas.
  • Versi Danuredjan (Tembang)
Babat ing Banyumas adalah koleksi Museum Sana Budaya, PB.A. 251
yang disusun oleh Raden Adipati Danuredja V, R.O.N.L. pada hari Senin
Legi, 25 Rabingulakhir Ehe 1812 atau 5 Maret 1883. Kangjeng Raden
Adipati Danuredja V adalah Pepatih Dalem Kasultanan Yogyakarta ke-V
(13 Pebruari 1847-17 Nopember 1879) dan setelah pensiun bergelar
Kangjeng Pangeran Harya Juru (Pigeaud, 1932:34).
Teks Babat ing Banyumas dibagi menjadi dua, yakni 405 halaman
bagian pertama berisi 59 pupuh tembang macapat dan 154 halaman bagian
kedua berisi 13 silsilah dalam bentuk prosa. Pupuh I-XVII berisi keterangan
hubungan antara sejarah Sri Harjakusuma dengan Majapahit, Babad
Wirasaba, Babad Banyumas, dan keluarga Kadanuredjan. Pupuh XVIIIXXVI
(bait 1-26) berisi Babad Wirasaba dan Babad Banyumas. Pupuh
XXVI (bait 27-56)-XXXVII berisi hubungan teks Babad Banyumas dengan
Sujarah Kadanuredjan Ngayogyakarta Hadiningrat, sedangkan pupuh
XXXVIII-LIX berisi Babad Banyumas yang dilanjutkan Babad Kadanuredjan
dan dihubungkan dengan keturunan yang ada di Banyumas, Yogyakarta,
dan Surakarta. Selanjutnya, bagian kedua yang berisi 13 silsilah dapat dibandingkan
dengan teks-teks dari versi Danuredjan (gancaran).

BABAD BANYUMAS DAN VERSI-VERSINYA 2

  • Versi Transformasi Teks Mertadiredjan
Versi ini meliputi Babad Nagari Banyumas wiwit saking Pandita Putra
ing Pajajaran (karya Rejosudiro, koleksi Soedarmadji), Babad Banyumasan
(karya Ki S. Wigno, koleksi Sugeng Priyadi), Terjadinya Daerah Banyumas
82 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
(karya terjemahan Roeslan Doyowarsito dari karya Ki S. Wigno), Babad
Nagari Banjumas wiwit saking Pandito Putro hing Pedjadjaran (stensil
Budi, koleksi Soedarmadji), Babad Nagari Banyumas wiwit saking Pandhita
Putra ing Pajajaran (salinan Sugeng Priyadi), Babad Banyumas (karya
Amen Budiman di Harian Suara Merdeka), dan Babad Banyumas (karya
Soemarno, Whd., di Mingguan Jayabaya).
  • Versi PRBN
Teks Babad Banyumas juga terkandung dalam naskah Pustaka Rajyarajya
I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4. Pada halaman 173-176 berisi
ringkasan teks Babad Banyumas (Ayatrohaedi & Atja, 1991:109-110). Teks
tadi menjelaskan bahwa Raden Baribin adalah adik Prabu Brawijaya
Kretabhumi. Baribin pergi dari ibu kota Majapahit karena serbuan Raden
Patah. Raden Baribin menempuh perjalanannya dari ibu kota ke Pajajaran
melalui Kaleng dan Ngayah. Dikisahkan raja Pajajaran mempunyai empat
orang anak, yaitu Banyak Catra (Raden Kamandaka) yang menjadi bupati
Pasirluhur, Raden Banyak Ngampar menjadi bupati di Dayeuhluhur, putra
mahkota, dan Nay Retna Ayu Kirana. Raden Baribin dikawinkan dengan
Nay Retna Ayu Kirana. Raden Baribin disebut juga Pandita Putra. Ibu Raden
Baribin disebut sebagai cucu bupati Wirasaba yang kawin dengan raja
Majapahit. Raden Baribin mempunyai anak lelaki, yakni Katuhu yang lahir
pada tahun Saka 1403 (1481 Masehi). Raden Katuhu menjadi bupati
Wirasaba kedua dengan gelar Raden Adipati Wirontomo II. Ada tiga bupati
Wirasaba yang memerintah secara berurutan, yaitu Wirontomo I, Katuhu
(Wirontomo II), dan Adipati Urang (Wirontomo III).
Teks tersebut lebih dekat dengan versi Dipayudan atau versi
Banjarnegara, baik yang berasal dari Wirasaba maupun Banjarnegara.
Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4 ini memakai
bahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun Saka 1602, atau 1680 Masehi.
Keberadaan teks Babad Banyumas tersebut menunjukkan bahwa Babad
Banyumas telah dikenal pada perempat terakhir abad ke-17 Masehi.
Penanggalan itu tidak bertentangan dengan tipe huruf Babad Banyumas
Kalibening yang juga berasal dari abad ke-17 Masehi. Ada kemungkinan
bahwa teks tersebut menjadi cikal-bakal teks Babad Banyumas versi
Banjarnegara (Priyadi, 1999b:63 & 1999c:229).
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 83
  • Versi Dipayudan atau Versi Banjarnegara
Versi yang berbentuk tembang ini meliputi teks Babad Wirasaba
Kejawar (koleksi Soedarmadji), Serat Sedjarah Banjoemas (salinan Sariban,
koleksi Sugeng Priyadi), Serat Sujarah Banyumas (salinan Raden Gatot,
Pensiunan Patih Demak, koleksi Soedarmadji), Punika Surat Sujarah
ingkang Nuruna ing Toyamas (naskah kepatihan Banyumas, koleksi
Soedarmadji), dan Surat Sujarah Banyumas (salinan Sugeng Priyadi dari
karya salinan Raden Gatot).
Teks Babad Wirasaba Kejawar (9 Mei 1879), Punika Surat Sujarah
ingkang Nuruna ing Toyamas (9 Oktober 1891), Serat Sujarah Banyumas
(15 Januari 1921), dan Serat Sedjarah Banjoemas (23 Nopember 1946)
ditulis berdasarkan Sejarah Wirasaba di Banyumas oleh keturunan bupati
Banjarnegara Dipayuda IV. Sejarah Wirasaba adalah naskah koleksi Mad
Marta, penduduk desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Purbalingga. Tebal
naskah 90 halaman. Halaman 1-85 berisi 14 pupuh tembang macapat dan
halaman 86-90 berisi silsilah Adipati Wira Utama (Katuhu) sampai
Tumenggung Yudanegara (Gandakusuma). Pada pupuh I terdapat sengkalan
yang menunjukkan tahun Jawa 1787 atau 1858 Masehi. Naskah yang sampai
kepada kita adalah salinan Mulyareja yang diselesaikan pada tanggal 24
Agustus 1956. Meskipun naskahnya muda, tetapi kandungan teksnya lebih
tua bila dibandingkan dengan keempat teks tersebut.
Proses penyalinan dari Wirasaba ke Banjarnegara, dan masuk ke
Banyumas dengan judul yang berbeda dengan teks aslinya. Dalam teks
Babad Wirasaba Kejawar dan Serat Sedjarah Banjoemas ditemukan adanya
sisipan teks Babad Pasir. Penelitian Priyadi (1996) memperlihatkan bahwa
teks Babad Pasir tersebut bukan berasal dari teks yang telah dipublikasikan
oleh Knebel (1900: 1-155), tetapi berasal dari tradisi lisan. Teks lisan yang
berbentuk prosa digubah dalam empat pupuh tembang macapat, yaitu XIX
Asmarandana (31 bait), XX Sinom (12 bait), XXI Dandanggula (23 bait),
dan XXII Asmarandana (9 bait). Teks lisan tersebut mungkin berasal dari
pengaruh penulisan babad di Jawa Barat (Priyadi, 1993; lihat Sutaarga,
1984). Pengaruh Sunda agaknya sangat kuat. Hal itu terbukti dengan adanya
tiga orang tokoh Siliwangi dalam teks-teks Banyumas (Priyadi, 1992:115).
Banyak Catra di dalam masyarakat Sunda Kuna dikenal sebagai salah satu
naskah pantun, selain Langgalarang, Siliwangi, dan Haturwangi (Atja &
Saleh Danasasmita, 1981: 14). Namun, tradisi Babad Pasir yang hidup di
84 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006
Taman Sari, Pasir Kidul, Pasir Kulon, Pasir Lor, dan Pasir Wetan yang
mendapat pengaruh Sunda itu tidak tersentuh oleh penggubah Babad
Wirasaba Kejawar dan Serat Sedjarah Banjoemas.
Ada dua naskah versi Dipayudan yang baru ditemukan, yaitu Sujarah
Banyumas (milik Danukrama) dan Serat Sujarah Banyumas (salinan Raden
Ngabehi Rangga Bratadimedja Pensiunan Patih Purbalingga, milik Raden
Ayu Sudirman Gandasubrata). Sujarah Banyumas seluruhnya berisi 120
halaman (33 X 21,5 cm). Danukrama adalah pensiunan Mantri Polisi di
Banyumas tahun 1845. Ada dugaan naskah ini lebih tua dibandingkan Babad
Wirasaba Kejawar (BWK) dan Serat Sedjarah Banjoemas (SSB). Kedua
naskah memuat teks yang sama (30 pupuh), sedangkan Sujarah Banyumas
Danukrama (SBD) berisi 25 pupuh. Serat Sujarah Banyumas milik Raden
Ayu Sudirman Gandasubrata (selanjutnya disingkat SSBS) seluruhnya ada
131 halaman (21,5 X 15,5 cm). Naskah tersebut merupakan salinan yang
dilakukan oleh pensiunan Patih Purbalingga, Ngabehi Rangga Bratadimedja
(ayah Raden Ayu Sudirman) di kampung Pasanggrahan, Januari 1921.
Sepeninggal Raden Ayu Sudirman, naskah disimpan oleh Brigjen Polisi
Purnawirawan Raden Mustafa Gandasubrata.
Naskah SSBS berisi teks yang sama dengan Serat Sujarah Banyumas
(SSBa). SSBa merupakan karya salinan Raden Gatot (Pensiunan Patih
Demak di Purwokerto) tanggal 22 Juni 1970. Raden Gatot menyatakan
bahwa ia menyalin langsung dari SSBS. Selama ini SSBS belum ditemukan
sehingga kandungan teks SSBa tidak dapat diketahui tradisinya. SSBS dan
SSBa memiliki jumlah pupuh, nama pupuh, dan jumlah bait yang sama,
bahkan silsilah keluarga Kolopaking juga termuat. Namun, SSBS
menampilkan silsilah Brawijaya sampai Mertadiredja II. Silsilah tersebut
tidak dijumpai dalam SSBa. Penemuan SSBS merupakan sumbangan yang
penting bagi sejarah teks, khususnya versi Dipayudan. SSBS termasuk salah
satu naskah missing-link (bdk. Priyadi, 1997a). Hal serupa juga terjadi pada
kasus SBD. SBD berasal dari tahun 1845 ditemukan pada koleksi naskah
Pangeran Aria Mertadiredja III dan Pangeran Aria Gandasoebrata sehingga
mengurangi daftar naskah missing-link. Naskah yang menjembatani antara
BWK, SSB, dan SBD dengan SSBS dan SSBa masih perlu dilacak.
Perbandingan teks-teks versi Dipayudan atau versi Banjarnegara dengan SW
pada tabel 3 sebagai berikut:
Priyadi, Babad Banyumas dan Versi-versinya 85
Tabel 3. Perbandingan teks-teks versi Banjarnegara dengan SW
Pupuh BWK SSB SBD SSBa SSBS SW PSSNT
I Asm 17 Asm 17 Asm 26 Asm 17 Asm 17 Asm 12 Asm 20
II Meg 11 Meg 11 -- Meg 11 Meg 11 -- Meg 16
III Dha 24 Dha 24 Dha 25 Dha 24 Dha 24 -- Dha 29
IV Dur 31 Dur 31 Dur 31 Dur 31 Dur 31 Dur 31 --
V Sin 25 Sin 25 Sin 24 Sin 25 Sin 25 Sin 26 --
VI Kin 37 Kin 37 Kin 38 Kin 37 Kin 37 Kin 32 --
VII Dha 58 Dha 58 Dha 57 Dha 57 Dha 57 Dha 68 --
VIII Sin 13 Sin 13 Sin 37 Sin 13 Sin 13 Sin 34 --
IX Gam 30 Gam 30 -- Gam 30 Gam 30 -- --
X Mij 22 Mij 22 Mij 23 Mij 20 Mij 20 Mij 22 --
XI Pan 30 Pan 30 Pan 30 Pan 30 Pan 30 Pan 30 --
XII Meg 26 Meg 33 Meg 37 Meg 34 Meg 34 Meg 35 --
XIII Asm 38 Asm 29 Asm 38 Asm 38 Asm 39 Asm 35 --
XIV Dha 16 Dha 16 Dha 13 Dha 16 Dha 16 Dha 8 --
XV Asm 39 Asm 39 Asm 38 Asm 24 Asm 24 Asm 35 --
XVI Sin 20 Sin 21 Sin 21 -- -- Sin 19 --
XVII Mas 29 Mas 29 Mas 34 -- -- Mas 9 --
XVIII Dha 28 Dha 28 Dha 28 -- -- -- --
XIX Asm 31 Asm 31 Asm 15 -- -- -- --
XX Sin 12 Sin 12 -- -- -- -- --
XXI Dha 23 Dha 23 -- -- -- -- --
XXII Asm 9 Asm 9 -- -- -- -- --
XXIII Dha 24 Dha 25 Dha 24 -- -- -- --
XXIV Dur 29 Dur 29 Dur 28 -- -- -- --
XXV Asm 32 Asm 32 Asm 32 -- -- -- --
XXVI Sin 20 Sin 20 Sin 20 -- -- -- --
XXVII Mij 37 Mij 37 Mij 37 -- -- -- --
XXVIII Puc 25 Puc 25 Puc 25 -- -- -- --
XXIX Kin 21 Kin 21 Kin 20 -- -- -- --
XXX Pan 18 Pan 17 Pan 18 -- -- -- --
Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. Singkatan Asm,
Gam, dll., adalah nama pupuh Asmarandana, Gambuh, sedangkan
angka Arab menunjukkan jumlah bait.
Di Universitas Leiden, ada beberapa naskah yang diduga termasuk versi
Banjarnegara, yang berjudul Wirasaba History dengan kode Lor. 6427,
7718, dan 7469 (Pigeaud, 1967:147; lihat 1968:374, 462, dan 439).
86 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006